Masih segar dalam pemikiran kita ketika Presiden Abdurachman Wahid ditentang oleh mayoritas anggota DPR dan para demonstran, bahkan beliau diminta untuk mengundurkan diri. Nuansa ini sudah mengarah pada ketidaksukaan terhadap pribadinya. Masalah yang dihadapi ini bukan karena Presiden Abdurachman Wahid tidak dipilih secara demokratis, melainkan menyangkut berhasil / tidaknya ia memperoleh akseptasi sebagai pemimpin bukan sekadar pimpinan bangsa Indonesia.![]()
Terpilihnya Presiden Abdurachman Wahid sebagai presiden adalah dalam posisi sebagai Pimpinan Bangsa Indonesia. Pimpinan jelas berbeda dengan pemimpin. Seorang “atasan” sudah pasti seorang pimpinan, namun tidak dengan sendirinya memjadi pemimpin. Posisi pimpinan diperoleh karena diberikan kewenangan oleh pihak yang lebih tinggi hirarkinya. Sedangkan, seorang pemimpin memperoleh akseptasi atau kepemimpinannya oleh karena kerja kerasnya. Singkatnya, saya mengatakan bahwa seorang pimpinan diangkat oleh Yang Berkuasa, sedangkan seorang pemimpin diangkat oleh Yang Maha Kuasa.![]()
Oleh karena itu, krisis kepemimpinan ini perlu segera diatasi sehingga “reformasi” kita selama lebih dari 10 tahun ini terselesaikan. Reformasi yang kita sebut-sebut dapat membuat kita muncul ke permukaan lagi, ternyata belum terselesaikan sampai sekarang. Dengan belajar dari pengalaman ini, diharapkan dapat melahirkan para pemimpin-pemimpin bukannya sekedar pimpinan.![]()
Seseorang yang akan menjadi pemimpin bagi orang lain perlu menjadi pemimpin bagi dirinya terlebih dahulu. Untuk mampu menjadi pemimpin bagi dirinya, dia harus memiliki Brainware Self Mastery. Langkah awal yang penting adalah membangun hubungan baik, positif, dan produktif dengan diri sendiri melalui intra personal skill yang baik. Selanjutnya ia harus berkeyakinan, bersyukur, dan bersabar. Ketiga hal inilah yang merupakan tantangan terberatnya, jika tidak dibarengi dengan motivasi yang tinggi. Kemudian kemampuan interpersonal skill yang baik pun akan berkembang sejalan dengan kecerdasan spiritual dan emosional kita.![]()
Setelah memiliki Brainware Self Mastery, maka untuk menjadi pemimpin dibutuhkan pula Brainware Leadership Mastery. Seorang pemimpin harus memiliki 2 rasa terhadap dirinya sendiri, orang yang dipimpinnya, maupun orang yang berinteraksi dengannya, yaitu rasa saling percaya dan rasa saling hormat. Tanpa kedua hal ini mustahil seorang pimpinan mampu bermetamorfosis menjadi seorang pemimpin.
Namun, tidak hanya berhenti di situ saja, para calon pemimpin juga harus menjawab berbagai tantangan di era reformasi ini. Seperti setiap zaman menuntut pola pikirnya sendiri, khususnya dalam nuansa modernisasi yang kental ini. Penguasaan teknologi pun sedikit banyak pasti mempengaruhi pola pikir untuk maju dari setiap calon pemimpin.
Selain itu, tantangan lain yang harus dihadapi adalah tanpa disadari banyak diantara kita yang terjebak dalam “budaya rame-rame”. Media menuntut kita untuk membangun pikiran atau gagasan yang sama, maupun opini yang sama. Di satu sisi kita ingin membangun karakter pemimpin yang khas, namun kita tidak dapat memandang remeh kecenderungan kita dalam “budaya rame-rame”. Menjadi sama itu lumrah, tetapi dalam hal positif dan kita masih dituntut untuk memiliki keunikan tersendiri.
Akan tetapi segala tantangan dapat dijawab dengan mengetahui penyebab inti dalam setiap tantangan tersebut. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memulai dan mengakhiri setiap usaha kita dengan berdoa.
Akhirnya, dengan akseptasi para pemimpin maka krisis kepemimpinan dalam kelembagaan dapat diatasi. Kiranya, ulasan dan opini saya ini, dapat membantu kita membuka tabir “reformasi” kita yang belum terselesaikan.![]()
Syalom
My Logo
Diposting oleh
MONIQUA BLOG









0 komentar:
Posting Komentar