Syalom
My Logo
Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (0)
Pertambahan anak umur sekolah yang cepat dan pertambahan lulusan tiap jenjang pendidikan yang besar, tidak diikuti penambahan prasarana dan sarana pendidikan yang cepat dan memadai, sehingga menimbulkan masalah bagi pemerintah untuk memberikan “pendidikan dan pengajaran” pada semua warga Negara sebagaimana diamanatkan oleh undang- undang Dasar.
Oleh karena itu, tak urung banyak lulusan SMA yang beralih untuk menamatkan kuliahnya di luar negeri karena pemerintah kurang sigap menyikapi pendidikan yang merupakan pondasi utama dalam negara. Kemajuan pendidikan luar negeri, memang tak bisa dibandingkan dengan di dalam negeri. Mulai dari kualitas, ke up to date an bahan materi, sampai pada pengalaman harus diacungi jempol.
Akan tetapi, semua yang bagus memang tidak dapat diraih semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus bersiap-siap mulai dari sekarang untuk mengencangkan ikat pinggang saat berinisiatif bersekolah ke luar negeri. Biaya pendidikan yang terus meroket, apalagi jika mata uang negara yang bersangkutan lebih sering menguat dibandingkan dengan rupiah. Hal ini kerap kali bergerak tak sejalan dengan penghasilan orang tua dalam negeri. Apalagi jika perguruan tinggi yang hendak dipilih adalah universitas swasta, ternama, dan menjadi incaran calon mahasiswa dari berbgai belahan dunia. Tanpa bantuan beasiswa, tampaknya impian itu hanya akan sebatas angan-angan.
Harvard University yang menjadi perguruan tinggi nomor satu di AS dan di dunia, misalnya mengutip biaya untuk mahasiswa internasional untuk program S1 (undergraduate) di tahun pertama hampir sebesar Rp 500 juta atau Rp 2 miliar sampai menyelesaikan empat tahun kuliah.
Di kawasan eropa misalanya Cambridge University di Inggris yang menjadi perguruan tinggi paling diunggulkan di Eropa menarik pungutan antara Rp 168 juta sampai Rp 225 juta untuk mahasisiwa luar negeri. Berbeda dengan di Inggris, uang kuliah di perguruan tinggi di Eropa Kontinental tidak mencekik leher, bahkan tak jarang gratis. Namun, hambatan utamanya adalah bahasa. Umumnya universitas-universitas itu menggunakan bahasa nasionalnya masing-masing sebagai pengantar. Bahkan University of Heidelberg sebuah universitas tertua di Jerman tidak menarik biaya kulah dari mahasiswa asing dengan syarat mereka harus menamatkan kuliahnya sesuai dengan tenggang waktu yang ditentukan.
Sementara itu, memasuki kawasan Asia Pasifik terdapat dua negara yang universitasnya juga diunggulkan dunia. Yang pertama Australian National University (ANU), Canberra. Untuk masuk ke universitas ini, kita harus siap untuk merogoh kantong setahun sekitar Rp 144 juta- Rp 168 juta. Yang kedua adalah National University of Singapore (NUS) yang memiliki rentang biaya kuliah yang cukup lebar, yaitu untuk mahasiswa S1 jurusan ilmu sosial dikenakan biaya sekitar 200 juta. Namun, untuk jurusan ilmu-ilmu alam dikenakan tarif Rp 594 juta. Suatu perbandingan yang sangat lebar.
Selain biaya kuliah yang cukup “menggerahkan”, kita juga harus memperhatikan akomodasi. Salah satu yang kerap menjadi kerisauan orang tua ketika mengirim anaknya bersekolah di luar negeri adalah urusan akomodasi. Keamanan tempat tinggal, letak tempat tinggal dari kampus, kenyamanan kamar untuk belajar bukanlah hal yang patut disepelekan. Rumah kos yang disediakan kampus terbatas dan tarifnya tergolong agak tinggi, akomodasi yang disediakan universitas umumnya kurang diminati mahasiswa yang telah belajar beberapa bulan. Informasi dari para senior akan menggiring mereka mencari tempat tinggal lebih murah dan lebih nyaman.
Pendidikan yang merupakan pilar utama suatu negara memang harus diperoleh dengan mahal. Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk menyerah begitu saja sebelum berperang.Yang penting bagi kita adalah keseriusan dan komitmen yang tinggi. Adanya kesadaran bahwa dimanapun kita mengenyam pendidikan selama masih ada komitmen, saya rasa persoalan tersebut bisa teratasi. Seperti kata orang bijak “If there is a will, there is a way”. Banyak hal yang dapat dilakuakan untuk meraih semua itu, seperti belajar bersungguh-sungguh mulai saat ini agar bisa mendapat beasiswa.Selain itu, kita juga harus memohon lindungan-Nya agar apa yang kita cita-citakan dapat tercapai.
Akhirnya, kita berharap agar pendidikan kita akan lebih baik lagi. Sehingga tunas-tunas bangsa Indonesia tidak layu begitu saja. Namun, tunas-tunas itu dapat memberikan buah yang manis bagi kesejahteraan Indonesia.
Semoga dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional ini bermanfaat dan menjadi alat untuk memotivasi kita untuk memajukan Indonesia.
Selamat sore, sekian dan terima kasih.
Oleh karena itu, tak urung banyak lulusan SMA yang beralih untuk menamatkan kuliahnya di luar negeri karena pemerintah kurang sigap menyikapi pendidikan yang merupakan pondasi utama dalam negara. Kemajuan pendidikan luar negeri, memang tak bisa dibandingkan dengan di dalam negeri. Mulai dari kualitas, ke up to date an bahan materi, sampai pada pengalaman harus diacungi jempol.
Akan tetapi, semua yang bagus memang tidak dapat diraih semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus bersiap-siap mulai dari sekarang untuk mengencangkan ikat pinggang saat berinisiatif bersekolah ke luar negeri. Biaya pendidikan yang terus meroket, apalagi jika mata uang negara yang bersangkutan lebih sering menguat dibandingkan dengan rupiah. Hal ini kerap kali bergerak tak sejalan dengan penghasilan orang tua dalam negeri. Apalagi jika perguruan tinggi yang hendak dipilih adalah universitas swasta, ternama, dan menjadi incaran calon mahasiswa dari berbgai belahan dunia. Tanpa bantuan beasiswa, tampaknya impian itu hanya akan sebatas angan-angan.
Harvard University yang menjadi perguruan tinggi nomor satu di AS dan di dunia, misalnya mengutip biaya untuk mahasiswa internasional untuk program S1 (undergraduate) di tahun pertama hampir sebesar Rp 500 juta atau Rp 2 miliar sampai menyelesaikan empat tahun kuliah.
Di kawasan eropa misalanya Cambridge University di Inggris yang menjadi perguruan tinggi paling diunggulkan di Eropa menarik pungutan antara Rp 168 juta sampai Rp 225 juta untuk mahasisiwa luar negeri. Berbeda dengan di Inggris, uang kuliah di perguruan tinggi di Eropa Kontinental tidak mencekik leher, bahkan tak jarang gratis. Namun, hambatan utamanya adalah bahasa. Umumnya universitas-universitas itu menggunakan bahasa nasionalnya masing-masing sebagai pengantar. Bahkan University of Heidelberg sebuah universitas tertua di Jerman tidak menarik biaya kulah dari mahasiswa asing dengan syarat mereka harus menamatkan kuliahnya sesuai dengan tenggang waktu yang ditentukan.
Sementara itu, memasuki kawasan Asia Pasifik terdapat dua negara yang universitasnya juga diunggulkan dunia. Yang pertama Australian National University (ANU), Canberra. Untuk masuk ke universitas ini, kita harus siap untuk merogoh kantong setahun sekitar Rp 144 juta- Rp 168 juta. Yang kedua adalah National University of Singapore (NUS) yang memiliki rentang biaya kuliah yang cukup lebar, yaitu untuk mahasiswa S1 jurusan ilmu sosial dikenakan biaya sekitar 200 juta. Namun, untuk jurusan ilmu-ilmu alam dikenakan tarif Rp 594 juta. Suatu perbandingan yang sangat lebar.
Selain biaya kuliah yang cukup “menggerahkan”, kita juga harus memperhatikan akomodasi. Salah satu yang kerap menjadi kerisauan orang tua ketika mengirim anaknya bersekolah di luar negeri adalah urusan akomodasi. Keamanan tempat tinggal, letak tempat tinggal dari kampus, kenyamanan kamar untuk belajar bukanlah hal yang patut disepelekan. Rumah kos yang disediakan kampus terbatas dan tarifnya tergolong agak tinggi, akomodasi yang disediakan universitas umumnya kurang diminati mahasiswa yang telah belajar beberapa bulan. Informasi dari para senior akan menggiring mereka mencari tempat tinggal lebih murah dan lebih nyaman.
Pendidikan yang merupakan pilar utama suatu negara memang harus diperoleh dengan mahal. Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk menyerah begitu saja sebelum berperang.Yang penting bagi kita adalah keseriusan dan komitmen yang tinggi. Adanya kesadaran bahwa dimanapun kita mengenyam pendidikan selama masih ada komitmen, saya rasa persoalan tersebut bisa teratasi. Seperti kata orang bijak “If there is a will, there is a way”. Banyak hal yang dapat dilakuakan untuk meraih semua itu, seperti belajar bersungguh-sungguh mulai saat ini agar bisa mendapat beasiswa.Selain itu, kita juga harus memohon lindungan-Nya agar apa yang kita cita-citakan dapat tercapai.
Akhirnya, kita berharap agar pendidikan kita akan lebih baik lagi. Sehingga tunas-tunas bangsa Indonesia tidak layu begitu saja. Namun, tunas-tunas itu dapat memberikan buah yang manis bagi kesejahteraan Indonesia.
Semoga dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional ini bermanfaat dan menjadi alat untuk memotivasi kita untuk memajukan Indonesia.
Selamat sore, sekian dan terima kasih.
Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (0)

First,...thanks to Jesus Christ for all of the bless in my life
.
Trima kasih juga buat guru TIKq, Bu Neneng Handayani yang bersedia membantuku dengan menjawab berbagai pertanyaanku
yang mungkin nggak` penting
. Trus,....thanks to Sary and Jorvin as my friends.....yg setia dalam berbagai suka duka bikin blog......
.N berbagai saran mereka yang tak terhitung jumlahnya.......
.Thanks to my family yang memfasilitasiku dalam pembuatan blog ini...Yg terakhir tahanks to my readers and viewers yang menyempatkan diri mengintip blogQ....
Haleluya.....
Tuhan tidak pernah tinggalkan kita.....Meskipun banyakan dukanya bikin blog....
tp rasa puas dan bangga atas karyaku ini melebihinya......
So,....Enjoy My Blog








