Syalom
My Logo
Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (0)
Masih segar dalam pemikiran kita ketika Presiden Abdurachman Wahid ditentang oleh mayoritas anggota DPR dan para demonstran, bahkan beliau diminta untuk mengundurkan diri. Nuansa ini sudah mengarah pada ketidaksukaan terhadap pribadinya. Masalah yang dihadapi ini bukan karena Presiden Abdurachman Wahid tidak dipilih secara demokratis, melainkan menyangkut berhasil / tidaknya ia memperoleh akseptasi sebagai pemimpin bukan sekadar pimpinan bangsa Indonesia.
Terpilihnya Presiden Abdurachman Wahid sebagai presiden adalah dalam posisi sebagai Pimpinan Bangsa Indonesia. Pimpinan jelas berbeda dengan pemimpin. Seorang “atasan” sudah pasti seorang pimpinan, namun tidak dengan sendirinya memjadi pemimpin. Posisi pimpinan diperoleh karena diberikan kewenangan oleh pihak yang lebih tinggi hirarkinya. Sedangkan, seorang pemimpin memperoleh akseptasi atau kepemimpinannya oleh karena kerja kerasnya. Singkatnya, saya mengatakan bahwa seorang pimpinan diangkat oleh Yang Berkuasa, sedangkan seorang pemimpin diangkat oleh Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, krisis kepemimpinan ini perlu segera diatasi sehingga “reformasi” kita selama lebih dari 10 tahun ini terselesaikan. Reformasi yang kita sebut-sebut dapat membuat kita muncul ke permukaan lagi, ternyata belum terselesaikan sampai sekarang. Dengan belajar dari pengalaman ini, diharapkan dapat melahirkan para pemimpin-pemimpin bukannya sekedar pimpinan.
Seseorang yang akan menjadi pemimpin bagi orang lain perlu menjadi pemimpin bagi dirinya terlebih dahulu. Untuk mampu menjadi pemimpin bagi dirinya, dia harus memiliki Brainware Self Mastery. Langkah awal yang penting adalah membangun hubungan baik, positif, dan produktif dengan diri sendiri melalui intra personal skill yang baik. Selanjutnya ia harus berkeyakinan, bersyukur, dan bersabar. Ketiga hal inilah yang merupakan tantangan terberatnya, jika tidak dibarengi dengan motivasi yang tinggi. Kemudian kemampuan interpersonal skill yang baik pun akan berkembang sejalan dengan kecerdasan spiritual dan emosional kita.
Setelah memiliki Brainware Self Mastery, maka untuk menjadi pemimpin dibutuhkan pula Brainware Leadership Mastery. Seorang pemimpin harus memiliki 2 rasa terhadap dirinya sendiri, orang yang dipimpinnya, maupun orang yang berinteraksi dengannya, yaitu rasa saling percaya dan rasa saling hormat. Tanpa kedua hal ini mustahil seorang pimpinan mampu bermetamorfosis menjadi seorang pemimpin.
Namun, tidak hanya berhenti di situ saja, para calon pemimpin juga harus menjawab berbagai tantangan di era reformasi ini. Seperti setiap zaman menuntut pola pikirnya sendiri, khususnya dalam nuansa modernisasi yang kental ini. Penguasaan teknologi pun sedikit banyak pasti mempengaruhi pola pikir untuk maju dari setiap calon pemimpin.
Selain itu, tantangan lain yang harus dihadapi adalah tanpa disadari banyak diantara kita yang terjebak dalam “budaya rame-rame”. Media menuntut kita untuk membangun pikiran atau gagasan yang sama, maupun opini yang sama. Di satu sisi kita ingin membangun karakter pemimpin yang khas, namun kita tidak dapat memandang remeh kecenderungan kita dalam “budaya rame-rame”. Menjadi sama itu lumrah, tetapi dalam hal positif dan kita masih dituntut untuk memiliki keunikan tersendiri.
Akan tetapi segala tantangan dapat dijawab dengan mengetahui penyebab inti dalam setiap tantangan tersebut. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memulai dan mengakhiri setiap usaha kita dengan berdoa.
Akhirnya, dengan akseptasi para pemimpin maka krisis kepemimpinan dalam kelembagaan dapat diatasi. Kiranya, ulasan dan opini saya ini, dapat membantu kita membuka tabir “reformasi” kita yang belum terselesaikan.
Terpilihnya Presiden Abdurachman Wahid sebagai presiden adalah dalam posisi sebagai Pimpinan Bangsa Indonesia. Pimpinan jelas berbeda dengan pemimpin. Seorang “atasan” sudah pasti seorang pimpinan, namun tidak dengan sendirinya memjadi pemimpin. Posisi pimpinan diperoleh karena diberikan kewenangan oleh pihak yang lebih tinggi hirarkinya. Sedangkan, seorang pemimpin memperoleh akseptasi atau kepemimpinannya oleh karena kerja kerasnya. Singkatnya, saya mengatakan bahwa seorang pimpinan diangkat oleh Yang Berkuasa, sedangkan seorang pemimpin diangkat oleh Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, krisis kepemimpinan ini perlu segera diatasi sehingga “reformasi” kita selama lebih dari 10 tahun ini terselesaikan. Reformasi yang kita sebut-sebut dapat membuat kita muncul ke permukaan lagi, ternyata belum terselesaikan sampai sekarang. Dengan belajar dari pengalaman ini, diharapkan dapat melahirkan para pemimpin-pemimpin bukannya sekedar pimpinan.
Seseorang yang akan menjadi pemimpin bagi orang lain perlu menjadi pemimpin bagi dirinya terlebih dahulu. Untuk mampu menjadi pemimpin bagi dirinya, dia harus memiliki Brainware Self Mastery. Langkah awal yang penting adalah membangun hubungan baik, positif, dan produktif dengan diri sendiri melalui intra personal skill yang baik. Selanjutnya ia harus berkeyakinan, bersyukur, dan bersabar. Ketiga hal inilah yang merupakan tantangan terberatnya, jika tidak dibarengi dengan motivasi yang tinggi. Kemudian kemampuan interpersonal skill yang baik pun akan berkembang sejalan dengan kecerdasan spiritual dan emosional kita.
Setelah memiliki Brainware Self Mastery, maka untuk menjadi pemimpin dibutuhkan pula Brainware Leadership Mastery. Seorang pemimpin harus memiliki 2 rasa terhadap dirinya sendiri, orang yang dipimpinnya, maupun orang yang berinteraksi dengannya, yaitu rasa saling percaya dan rasa saling hormat. Tanpa kedua hal ini mustahil seorang pimpinan mampu bermetamorfosis menjadi seorang pemimpin.
Namun, tidak hanya berhenti di situ saja, para calon pemimpin juga harus menjawab berbagai tantangan di era reformasi ini. Seperti setiap zaman menuntut pola pikirnya sendiri, khususnya dalam nuansa modernisasi yang kental ini. Penguasaan teknologi pun sedikit banyak pasti mempengaruhi pola pikir untuk maju dari setiap calon pemimpin.
Selain itu, tantangan lain yang harus dihadapi adalah tanpa disadari banyak diantara kita yang terjebak dalam “budaya rame-rame”. Media menuntut kita untuk membangun pikiran atau gagasan yang sama, maupun opini yang sama. Di satu sisi kita ingin membangun karakter pemimpin yang khas, namun kita tidak dapat memandang remeh kecenderungan kita dalam “budaya rame-rame”. Menjadi sama itu lumrah, tetapi dalam hal positif dan kita masih dituntut untuk memiliki keunikan tersendiri.
Akan tetapi segala tantangan dapat dijawab dengan mengetahui penyebab inti dalam setiap tantangan tersebut. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memulai dan mengakhiri setiap usaha kita dengan berdoa.

Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (0)

YEREMIA 29:11
“Sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
AMSAL 1:7
“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”
AMSAL 11:12-13
“Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai berdiam diri. Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa setia, menutupi perkara.”
AMSAL 27:5
“Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.”
MATIUS 5:39
“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (2)
Romantis. Umumnya romantis dikatakan sbagai keadaan saat cewek dan cowok bertemu, misalnya saat berpacaran. Apakah kamu butuh seorang cowok untuk merasakan romantis ?. Kamus Oxford mendefinisikan romantis sebagai keadaan yang dicirikan oleh pandangan idealis, sentimental, atau fantastis terhadap realitas. Artinya, setiap menit dari kesendirianmu bisa menjadi saat yang romantis : kita tidak harus punya seorang pacar.
Romantis adalah atmosfer yang melingkupi diri kita sendiri. Bukanlah sentimentalitas saat bergandengan tangan, menulis puisi atau memanggil dengan nama kesayangan. Kamu bisa saja duduk melihat sunset dan merasa sangat romantis, namun pasanganmu tidak memandangnya sebagai hal yang romantis pula. Disinilah romantisme tidak terwujud. Hal-hal romantis yang dapat kamu lakukan sendirian, misalnya membuat kue favorit untuk dirimu, berendam dalam bath tub dan bersantai, merenung saat matahari terbenam atau terbit, merangkai bunga, piknik di taman, membaca buku sambil menghangatkan diri di perapian, pergi ke perpustakaan, punya hari makan es krim sepuasnya atau sekedar jalan-jalan waktu hujan (bisa pakai payung). Buat dirimu seromantis mungkin!.
Romantis adalah atmosfer yang melingkupi diri kita sendiri. Bukanlah sentimentalitas saat bergandengan tangan, menulis puisi atau memanggil dengan nama kesayangan. Kamu bisa saja duduk melihat sunset dan merasa sangat romantis, namun pasanganmu tidak memandangnya sebagai hal yang romantis pula. Disinilah romantisme tidak terwujud. Hal-hal romantis yang dapat kamu lakukan sendirian, misalnya membuat kue favorit untuk dirimu, berendam dalam bath tub dan bersantai, merenung saat matahari terbenam atau terbit, merangkai bunga, piknik di taman, membaca buku sambil menghangatkan diri di perapian, pergi ke perpustakaan, punya hari makan es krim sepuasnya atau sekedar jalan-jalan waktu hujan (bisa pakai payung). Buat dirimu seromantis mungkin!.
Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (0)

Pernahkah kita berada di suatu tempat yang ramai dan mulai memperbaiki rambut kita, atau menutupi jerawat kita, atau sekadar menggosok-gosok noda saus di baju kita?. Ya, kita semua pernah bahkan sering melakukannya. Memperbaiki rambut yang tidak secara instant membuat kita cantik, menutupi jerawat yang tidak secara otomatis menghilangkannya, maupun menggosok noda saus di baju yang tidak langsung hilang, menurutku adalah kegiatan yang mirip dengan menjaring angin. Sia-sia. Kita selalu berfikir ada yang salah dengan penampilan fisik kita dan merasa setiap orang akan melihat mereka dengan tatapan yang berbeda. Kenyataannya ini hanyalah imajinasi kita. Sebenarnya, orang-orang lain juga cemas dengan rambutnya, jerawatnya, atau noda di pakiannya sehingga mereka tidak ada waktu dan energi untuk melihatmu.

Diposting oleh
MONIQUA BLOG
komentar (1)

Saat aku tes wawancara dalam sebuah seleksi pertukaran pelajar, aku diminta untuk menyanyikan sebuah lagu. Entah mengapa, dari sekian lagu yang ku tahu, aku menyanyikan lagu “Pelangi sehabis Hujan”, sebuah lagu rohani. Aku tidak peduli lagi soal bedak yang luntur di siang bolong itu maupun banyaknya keringat yang membasahi bajuku.Namun, aku tetap bernyanyi dan “membebaskan diriku”. Tuhan melihat tidak hanya melalui make up di wajahku, pakaianku, maupun cemprengnya suaraku. Dia melihat hatiku. Ya, hanya Dia, bukan orang yang ada di ruangan itu, yang bisa dapat melihat apakah aku cantik atau tidak.
Itulah sebab aku berpendapat make up membuatku tidak menyembah dengan baik. Make up membuat kita hanya berfokus pada penampilan. Lucu kan bila kita buru-buru ke kamar mandi hanya untuk memperbaiki riasan fisik kita, sementara Tuhan Yesus mendiami dunia spiritual kita. Apakah kecantikan itu masih tetap didefinisikan dengan foto model-model yang menggandrungi TV atau majalah?. Menurutku, Tuhan adalah kecantikan itu sendiri. Semakin kita mirip dengan Dia maka semakin cantiklah kita. Itulah makanan bagi jiwa kita.

1 Petrus 3 : 3-4
“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambu, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetap perhiasanmu adalah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram yang sangat berharga di mata Allah.”









